"Mari kita bangun dunia dari mimpi dan jangan takutlah untuk bermimpi karena hidup berawal dari mimpi"

Atur Permukiman Kumuh di Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com - Permukiman kumuh di Jakarta banyak tersebar dan perlu untuk ditata. Pembenahan permukiman masyarakat kalangan bawah tersebut perlu untuk pembangunan kota bebas kumuh dan perumahan penduduk
"Permukiman kumuh banyak di Jakarta. Penting untuk ditangani," ucap Jehansyah Siregar, ahli perumahan permukiman dan transportasi, dalam diskusi tim visi Indonesia 2033 mengenai Menata Pemukiman dan Membangun Perumahan untuk Keluar dari Ancaman Kemacetan Total di Jakarta, Kamis (29/7/2010) di Jakarta.
Menurutnya, lahan-lahan terlantar di Jakarta masih banyak, sekitar 20-30 persen. Lahan-lahan terlantar ini harus segera diidentifikasi pemerintah Jakarta untuk pemindahan permukiman kumuh. "Bukan pengen rumah kumuh dibongkar, namun dipindah ke lahan terlantar tersebut, ditata dengan baik. Ini sebagai prakarsa kota bebas kumuh," tuturnya.
Diungkapkannya, banyak para investor yang tidak jadi membangun lahan yang telah dibeli dan direncanakannya untuk pembangunan. Lahan-lahan inilah yang harus diketahui dan didata pemerintah. Pendataan tersebut berguna agar masyarakat kalangan bawah yang tinggal di pemukiman kumuh dapat dipindah ke lahan terlantar tersebut.
"Ini penting agar masyarakat Jakarta ada akses untuk lahan perumahan, selama ini sulit karena kurang lahan. Pemukiman kumuh di Jakarta sekarang telah meluas dan memadat, harus segera dipindah agar ada lahan kosong untuk pembangunan," jelasnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pindahkan Ibu Kota..?

KOMPAS.com — Kemacetan Jakarta dan sekitarnya, yang menjadi sorotan utamaKompas dalam beberapa hari terakhir, kiranya tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomis (Kompas, 26/0710). Kerugian yang dialami juga menyangkut kerugian sosial dan psikis.

Secara psikis, Jakarta sangat tidak sehat, bukan saja karena terjadi polusi yang parah, melainkan juga karena kemacetan di jalan raya menimbulkan berbagai tekanan psikologis atau stres.

Demikian pula, secara sosial, kemacetan di jalan membuat relasi sosial menjadi penuh konflik, tidak saja di antara para pengendara di jalan, tetapi juga berdampak sampai ke kantor dan rumah tangga. Hubungan sosial penuh ketegangan akibat beban psikis yang dialami di jalan.

Oleh karena itu, sesungguhnya Jakarta bukan hanya sebuah kota yang sangat tidak ramah lingkungan, melainkan juga sangat tidak ramah secara sosial dan psikis. Dengan kondisi seperti itu, kiranya pembenahan transportasi umum, termasuk perluasan, penambahan, dan keterpaduan atau sinergi transportasi umum tidak akan banyak membawa hasil memadai. Itu hanya solusi jangka pendek sementara.

Yang dibutuhkan untuk jangka panjang adalah terobosan lebih radikal dan revolusioner. Kami mengusulkan tiga solusi. Sembari membenahi transportasi umum dan solusi lain yang bersifat tambal sulam, kendati sangat perlu, ketiga solusi harus segera diputuskan pemerintah pusat.

Pindahkan ibu kota

Usul pertama, pindahkan ibu kota. Ini usul dan langkah paling radikal. Banyak negara melakukan itu dan berhasil mengatasi kemacetan di ibu kota negaranya. Bung Karno, presiden pertama, telah berpikiran visioner menyiapkan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sebagai calon ibu kota RI sejak 1960-an.

Melanjutkan visi Bung Karno, sebaiknya ibu kota baru berada di luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur. Ada banyak keuntungan positif untuk itu.

Pertama, pemindahan ibu kota jangan dilihat sebagai beban ekonomi karena besarnya dana yang dialokasikan. Ini harus dilihat sebagai peluang ekonomi yang sangat menggiurkan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang yang akan mengerjakan persiapan, pembangunan, dan relokasi ibu kota tersebut. Akan dibutuhkan waktu 5-10 tahun untuk realisasi, dan itu peluang ekonomi yang sangat baik.

Kedua, dari segi politik, pemindahan ibu kota ke luar Jawa dan Indonesia bagian timur (IBT) akan serta-merta menggeser episentrum pembangunan nasional dari Jawa dan Indonesia bagian barat (IBB). Ini akan menjadi sebuah langkah dan peluang pemerataan pembangunan ke IBT untuk memberi kesempatan lebih besar bagi berkembangnya wilayah luar Jawa, khususnya IBT.

Ketiga, selain untuk mengatasi kemacetan di Jakarta dan sekitarnya, ini sekaligus menjadi peluang untuk membangun sebuah ibu kota baru dengan tata ruang, jaringan, dan pola transportasi yang jauh lebih ramah lingkungan, ramah secara sosial dan psikis, atau jauh lebih manusiawi.

Kita bangun ibu kota baru dengan sistem transportasi multimoda yang ramah lingkungan, nyaman, aman, dan mudah dijangkau. Kita bangun sebuah ibu kota baru dengan hutan kota yang asri, tempat-tempat rekreasi umum yang ramah secara sosial, dengan berbagai fungsi sosial yang futuristik untuk kehidupan modern, tetapi dengan warna etnik yang khas.

Pilihan di Kalimantan lebih diutamakan mengingat Kalimantan bebas dari pusat gempa.

Penyebaran kementerian

Usul kedua yang jauh lebih moderat, semua kementerian disebar ke beberapa wilayah RI sesuai dengan kondisi provinsi kita. Ambil saja sebagai contoh, Kementerian Kehutanan di Kalimantan atau Papua. Kementerian Kelautan dan Perikanan di Ambon. Kementerian Perindustrian di Surabaya. Kementerian Pendidikan di Yogyakarta.

Kemudian Kementerian Pariwisata di Bali. Kementerian Perdagangan di Jakarta atau Batam. Kementerian ESDM di Kalimantan atau Sumatera. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal di IBT agar benar-benar fokus pekerjaannya lebih diarahkan untuk pembangunan daerah tertinggal di IBT, dan seterusnya.

Cara ini akan menarik banyak pihak untuk mendesentralisasikan usaha atau minimal kantor pusatnya mengikuti kantor kementerian untuk memudahkan kegiatan usahanya. Maka, tak lagi semua perusahaan berkantor pusat di Jakarta.

Dari segi tata kelola pemerintahan, tidak ada banyak kendala karena berbagai rapat kabinet bisa dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi komunikasi modern.

Pembatasan

Kalau usulan kedua masih dianggap merepotkan karena berbagai kendala teknis menyangkut koordinasi lintas kementerian, usul ketiga yang sangat soft adalah pembatasan pembangunan di beberapa bidang. Namun, ini merupakan sebuah keharusan paling minim yang tidak boleh tidak segera dilaksanakan.

Tepatnya, usul ini berupa larangan bagi pembangunan baru untuk minimal tiga bidang. Pertama, tidak boleh ada lagi penambahan pembangunan mal atau pusat perbelanjaan baru di Jakarta. Apabila perlu, tidak boleh ada lagi penambahan mal baru di Jabodetabek. Dengan larangan ini, tidak akan ada lagi penambahan urbanisasi tenaga kerja baru ke Jakarta untuk bekerja di pusat-pusat perbelanjaan dan pertokoan tersebut.

Kedua, tidak boleh ada lagi hotel baru dibangun di Jakarta. Dengan otonomi daerah, seharusnya berbagai kegiatan pemerintahan telah dilaksanakan di daerah. Oleh karena itu, seharusnya daerahlah yang didorong membangun hotel baru sejalan dengan bergeraknya uang ke daerah.

Ketiga, sudah saatnya pembangunan universitas baru dilarang di Jakarta dan sekitarnya. Dengan jalan itu, pemerintah berketetapan untuk mengembangkan universitas baru, negeri dan swasta, yang berkualitas dan murah di daerah. Tenaga-tenaga dosen muda di daerah diberi kesempatan memperoleh pendidikan lanjutan di luar negeri untuk kembali mengajar di daerah.

Sementara dosen-dosen berkualitas di Jawa diberi kesempatan mengajar di daerah dan tidak perlu berpusat di Jakarta atau Jawa. Dengan jalan ini, putra-putra daerah, para calon mahasiswa, bisa mendapat peluang memperoleh pendidikan tinggi di daerahnya sekaligus mengabdi di daerahnya setelah lulus kelak.

Ketiga usulan mengandaikan persoalan kemacetan Jakarta harus diputuskan pada level pemerintah pusat, presiden dan kabinet, dengan melibatkan DPR. Ini harus menjadi sebuah keputusan politik nasional yang akan sangat menentukan nasib Jakarta dan nasib bangsa seluruhnya ke depan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Benahi Dulu Kendaraan Umumnya...

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana kebijakan Pemprov DKI Jakarta untuk membatasi penggunaan sepeda motor mendapat tentangan dari sejumlah pihak. Sejumlah pengendara sepeda motor alias bikerjuga menyatakan ketidaksetujuannya atas rencana ini.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan Rekso Purnomo, seorang wartawan media online di Jakarta. Sebagai pekerja media, Rekso memiliki mobilitas yang tinggi. Dia bisa berpindah lokasi liputan hingga beberapa kali dalam sehari. Untuk menunjang mobilitasnya, dia pun memilih moda transportasi sepeda motor.

"Saya tidak sepakat kalau justru motor yang dibatasi. Sekarang ini kan belum ada transportasi massal yang memadai. Bagaimana kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi kalau motor dibatasi, sementara kendaraan umumnya masih seperti sekarang ini," kata Rekso, Rabu (28/7/2010) di Jakarta.

Dia pun mempertanyakan soal mekanisme pembatasan penggunaan kendaraan tersebut. Menurutnya, jika pada jam tertentu sepeda motor dilarang lewat pada jalur-jalur tertentu, maka hal ini akan membingungkan para pengendara motor. "Nanti yang naik motor jadi bingung. Seandainya mau ke Sudirman, lalu dilarang, bagaimana mau bisa sampai tujuan," katanya.

Kalaupun pemerintah berniat mengurai benang kusut kemacetan di Jakarta, menurut Rekso, seharusnya fokus pada pembenahan sektor transportasi massal. "Benahi saja dulu kendaraan umumnya. Misalnya, bus transjakarta diperbanyak dan diperluas. Kalau sudah baik, pasti juga banyak yang pakai," ujarnya.

Pendapat serupa dikatakan Djohan Effendy. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi ini mengaku keberatan jika ada kebijakan semacam itu. Pemuda yang tinggal di daerah Kranggan, Bekasi, ini sehari-hari menggunakan sepeda motor untuk menuju kampusnya di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

"Kalau dipaksa naik angkot, saya bisa berapa jam di perjalanan. Tahu sendiri kan angkot di Jakarta kayak gimana. Udah enggak nyaman, macet pula," katanya.

Mahasiswa jurusan Teknik Industri ini menilai, kebijakan seperti itu hanya akan mengorbankan masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan. Dia mengatakan, masyarakat yang ekonominya terbatas justru memilih sepeda motor karena faktor murah dan cepat. "Ya, kalau sekarang dibatasi lagi, ini kan malah nambah menyusahkan masyarakat," ucapnya.

Djohan juga meminta agar Pemprov DKI mengkaji ulang rencana pembatasan penggunaan sepeda motor. Menurutnya, akan lebih baik jika kendaraan roda empat yang dibatasi. "Kalau mobil kan lebih boros. Kadang-kadang ada mobil tapi cuma satu orang di dalamnya. Ini lebih boros kendaraan daripada penumpang. Ya, mestinya mobil dulu yang dibatasi," tambah Djohan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Transportasi Massal, Jauh dari Nyaman

JAKARTA, KOMPAS.com — Tingginya pengguna kendaraan pribadi di Jakarta, baik roda dua maupun roda empat, tidak terlepas dari belum adanya sarana dan moda transportasi massal yang memenuhi kebutuhan masyarakat dari segi kenyamanan, kecepatan, keamanan, dan murah. Para komuter di Jakarta pun lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk sarana mobilitasnya.
"Sarana dan moda transportasi massal di Jakarta ini masih sangat buruk. Maka, jangan menyalahkan masyarakat kalau kemudian mereka lebih memilih naik motor atau mobil pribadi," kata Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi saat dihubungi Kompas.com, Rabu (28/7/2010).
Tulus mengatakan, persoalan kemacetan di Jakarta merupakan hal yang amat klasik dan terus-menerus menjadi persoalan yang tidak terselesaikan. Salah satu akar persoalan utama kemacetan tersebut, ujarnya, adalah faktor minimnya transportasi massal yang memadai.
"Namun, pembenahan di sektor transportasi massal ini justru tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Seharusnya transportasi massal dulu yang dibenahi sebelum membatasi kendaraan pribadi," urainya.
Dia memaparkan, bus transjakarta yang digadang-gadang Pemprov DKI sebagai sarana transportasi massal yang aman, nyaman, cepat dan murah masih jauh realisasinya. Sejumlah koridor hingga kini terbengkalai, sementara sejumlah  fasilitas halte bahkan mulai rusak.
"Bagaimana mau membatasi kendaraan pribadi dan mengharapkan masyarakat naik kendaraan umum kalau kenyataannya masih jauh dari memadai. Masyarakat jelas pilih yang lebih murah, aman, nyaman, dan cepat," tutur dia.
Tulus mengatakan, YLKI mendesak Pemprov DKI untuk lebih fokus membenahi sektor transportasi massal ketimbang menerapkan kebijakan yang membatasi penggunaan kendaraan pribadi. Dia menyebut, masyarakat dengan sendirinya akan beralih menggunakan kendaraan umum jika fasilitasnya sudah memenuhi kebutuhan masyarakat dan sudah memadai.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Inilah SUV 4x4 yang Bisa Jadi Helikopter

TEXAS, KOMPAS.com — Helikopter ini seperti autobot di film Transformers karena bisa berubah menjadi kendaraan darat SUV 4 x 4. Mungkin suatu hari nanti, helikopter serba guna ini akan digunakan oleh pasukan Amerika Serikat di Irak dan Afganistan untuk membantu mereka menghindari ancaman bom pinggir jalan.

Desain kendaraan ini sangat futuristik. Desainnya merupakan gagasan paling inovatif yang berbasis dari pengembangan Pesawat AVX Texas.

Kendaraan ini bisa membawa empat tentara lengkap dan menempuh perjalanan 250 mil untuk perjalanan darat dan udara dengan tangki bahan bakar tunggal.

Pihak perusahaan pengembang mengatakan, setiap prajurit dijamin dapat mengendarai sekaligus menerbangkan kendaraan tersebut tanpa harus memiliki lisensi pilot.

Motor jet yang digunakan sebagai mesin pendorong saat terbang langsung menyesuaikan diri saat kendaraan ini berubah menjadi SUV 4 x 4. Perubahan tersebut hanya membutuhkan waktu satu menit.

"Kendaraan ini sangat cocok digunakan di Irak dan Afganistan, tempat pasukan kerap menghadapi bahaya bom pinggir jalan," kata juru bicara perusahaan.

Saat ini Pentagon sedang mempertimbangkan masalah desain. Desain ini penting karena keselamatan tentara merupakan prioritas pertama, baik pada saat di udara maupun ketika bergerak di darat.

Kendaraan jenis AVX ini bisa terbang dengan kecepatan 140 mph, berada di jalan dengan kecepatan 86 mph, dan di medan tempur 30 mph.

Kendaraan ini mampu mengangkut sekitar 520 kg bahan bakar. "Namun, pihak perusahaan belum berpikir memproduksi kendaraan tersebut untuk kepentingan komersial, meskipun saat ini prototipe kendaraan ini dalam tahap penyelesaian," katanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS