"Mari kita bangun dunia dari mimpi dan jangan takutlah untuk bermimpi karena hidup berawal dari mimpi"

Benarkah 'Busway' Program Gagal?

JAKARTA, KOMPAS.com — Upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk membangun portal di jalur busway sebagai upaya sterilisasi dianggap sebagian kalangan hanya sebagai cara untuk mencari alasan terkait memburuknya pelayanan bus transjakarta.
Ketidakpastian dan ketidaknyamanan selalu mengintai sebagai dampak headway bus transjakarta semakin molor tanpa kepastian. Faktanya, jalur-jalur busway berdasarkan pengamatan di lapangan lebih sering lengang dan tidak terpakai meski di sisi jalur khusus bus transjakarta itu dipadati kendaraan yang terjebak kemacetan.
Pemandangan kontras antara jalur busway yang kosong dan meningkatnya penderitaan warga sebagai dampak penggunaan satu jalur untuk dipakai busway tampak di mana-mana.
Sekretaris Komisi A DPRD DKI Taufik Hadiawan menyatakan, jalur busway seharusnya merupakan jalur kendaraan yang merupakan hak masyarakat. "Masalahnya, jalur busway itu dibuat dengan mencaplok jalan umum sehingga jalan tersita. Akibatnya, kemacetan semakin parah," katanya di Gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (15/7/2010).
Taufik mencontohkan bahwa di banyak negara, khususnya di kota-kota besarnya, penyelenggaraan sarana transportasi publik disesuaikan dengan keadaan di negara-negara itu tanpa merampas sarana jalan umum. "Misalnya di Moskow, di sana jalur khusus kendaraan umum tidak dibangun portal apalagi dibangun separator, yang rawan mencelakakan pengendara lainnya. Kebijakan itu juga dilaksanakan di Kuala Lumpur," katanya.
Sementara itu, anggota Komisi B DPRD DKI Maringan Pangaribuan menyatakan, ketidakpedulian pemerintah untuk membenahi angkutan umum menjadi faktor tidak teratasinya persoalan jalurbusway. "Rencana pemortalan jalur busway sebenarnya selesai jika jalur busway dipakai oleh bus transjakarta karena kalau jalur busway sering kosong, maka akan mengundang banyak pengendara memasuki jalur itu, yang penting headway bus transjakarta harus baik," katanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

"Green Living" di Kampus Anak Jalanan

JAKARTA, KOMPAS.com - Terletak di pinggir kota Jakarta, terdapat satu hunian unik yang ditempati puluhan anak jalanan. Kampus Diakonia Modern (KDM) namanya. Bagaikan satu kompleks perumahan sendiri KDM berhias pohon-pohon rindang dan memiliki sistem pengolahan sampah sendiri yang disebut dengan Green Project.
"Awalnya, lingkungan di sini belum memiliki sistem pengelolaan sampah. Setiap rumah sekitar hanya menyimpan sampah di belakang dan ditumpuk begitu saja," ujar koordinator relawan KDM Renie Elvina, Kamis (15/7/2010), di Bekasi, Jawa Barat.
Pada saat itu, timbunan sampah tersebar di mana-mana. Pada tahun 2001 muncul ide untuk mengelola sampah lebih rapi. Bersama anak-anak jalanan yang mengenyam pendidikan di KDM, para relawan mulai melakukan pemisahan sampah.
"Proyek pertama hanya untuk memisahkan sampah-sampah organik dan non organik," tuturnya.
Selanjutnya, pada 2003 KDM mulai mengembangkan pemilahan kertas, plastik, bahan yang bisa didaur ulang lain, dan bahan yang tidak bisa di daur ulang. Tidak hanya di lingkungan KDM,Green Project pun kemudian merangkul berbagai elemen masyarakat mulai dari tingkat rumah tangga, universitas, sekolah, hingga perkantoran.
"Kita mengumpulkan sampah dari mereka untuk kemudian diolah lagi," ujar Renie.
Meski sempat dicemooh karena dianggap pemulung, Renie beserta rekannya di KDM tidak patah arang. Saat ini ada sekitar 300 rumah dan 40 kantor serta sekolah yang mau berpartisipasi dalam program lingkungan tersebut.
Setelah sampah-sampah tersebut dikumpulkan, beberapa yang masih sulit diolah kemudian dijual kembali ke penadah. Sementara lainnya, digunakan untuk membuat kertas daur ulang, ataupun benda kerajinan seperti hiasan, kartu ucapan, ataupun tas yang dikreasikan oleh anak-anak KDM. Dari bisnis Green Project ini KDM bisa menghasilkan Rp 8-11 juta dalam sebulan.
Sekretaris Yayasan KDM, Hiero Rahadiyan, menjelaskan Green Project di KDM juga dilakukan dengan mengolah sampah menjadi pupuk kompos. "Sampah-sampah dikumpulkan terus kita campur dengan kotoran sapi dan diendapkan hingga jadi kompos," ujarnya.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, gaya hidup di lingkungan KDM sangat memerhatikan keramahan terhadap lingkungan. Terdapat satu gedung yang disebut Rumah Kreatif yang seluruh bangunannya tidak dilapisi cat dan pada lantai atasnya dijadikan perkebunan hydroponik.
Selain itu, kamar mandi yang digunakan pun menggunakan satu sistem pengolahan limbah kotoran sendiri dengan menggunakan satu buah sepeda yang bertugas mengendapkan kotoran. "Jadi kalau anak-anak di sini mau buang air besar, habis itu harus mengayuh sepeda sebanyak delapan kali," ujar Hiero.
KDM merupakan sebuah hunian bagi sekitar 70 anak jalanan yang terletak di Pondok Rangon, Bekasi, Jawa Barat. Di tempat tersebut, anak-anak mengenyam pendidikan alternatif yang berbasis active learning. Gaya hidup green living pun menjadi nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini di kampus para anak jalanan ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Peneliti Yakin Bumi Kiamat Tiap 27 Juta Tahun

VIVAnews - Para peneliti kini 99 persen yakin bahwa peristiwa kehancuran massal di Bumi terjadi secara reguler, seteratur jarum jam berputar. Begitulah temuan para ilmuwan dari Universitas Kansas dan Smithsonian Institute di Amerika Serikat setelah mereka memetakan semua armagedon sejak 600 juta tahun yang lalu.
Astrofisikawan dari Universitas Kansas, Dr. Adrian Melott, dan palaeontologis dari Smithsonian Institute, Dr. Richard Bambach, mengungkapkan dalam kurun waktu itu kiamat di Bumi terjadi setidaknya tiap 27 juta tahun sekali.

Dan penyebab kiamat mendatang, menurut para peneliti itu, ternyata bukanlah pemanasan global.
Lalu apa?
Planet kita selalu melintasi hujan komet tiap 27 juta tahun, dan ternyata sangatlah jarang Bumi berhasil lolos dengan selamat. Selama 20 kali melewati cobaan maut itu, Bumi hanya berhasil lolos dari lubang jarum dan mempertahankan sebagian besar organisma biologis yang hidup di atasnya, sebanyak enam kali saja.
Yang paling terkenal adalah bencana dahsyat 65 juta tahun lalu, saat asteroid selebar 15 kilometer menghantam Bumi--di titik yang sekarang merupakan wilayah Meksiko--dengan kekuatan miliaran kali bom atom dan lalu menyapu habis Dinosaurus dari muka Bumi.
Lebih celaka lagi, periode putaran kiamat ini tak akurat betul. Terkadang, asteroid-asteroid menghantam semua makhluk hidup di muka bumi, 10 juta tahun lebih cepat dari yang semestinya.
Tapi, janganlah buru-buru panik. Masih ada kabar baik.
Ini menyangkut Nemesis, bintang kembar gelap dari matahari. Selama ini, Nemesis selalu dituding jadi biang keladi. Teori umumnya begini: tiap 27 juta tahun sekali, Nemesis melintasi sabuk raksasa debu dan es yang disebut awan Oort, dan gara-gara itu lalu melontarkan komet-komet ke Bumi.
Sekarang, para ilmuwan mengatakan: karena skenario kiamat terjadi secara begitu reguler, Nemesis tidaklah mungkin jadi penyebab utama karena orbitnya akan mengalami perubahan dalam kurun waktu sebegitu lama.
Tapi, ini bukan berarti bahwa Nemesis--yang terletak sekitar satu tahun cahaya dari matahari--tidak akan lagi menyemburkan komet-komet awan Oort-nya ke seantero galaksi kita. Sekarang ini, komet-komet itu sedang menghajar planet-planet lain di luar Bumi.
Jadi, karena armagedon terakhir terjadi 11 juta tahun lalu, maka berdasarkan teori ini, Bumi baru akan kiamat pada tahun 16.002.010--bukan dua tahun mendatang, seperti yang difilmkan Roland Emmerich di "2012."
Artinya, silakan Anda menghirup nafas lega-lega--sepanjang pemanasan global tak segera menciptakan kiamat yang lain. (News.com.au, Telegraph | kd)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Freeport diduga Produksi Uranium Secara Diam-diam

Jayapura (ANTARA) - Freeport diduga menggali bahan baku uranium secara diam-diam sejak delapan bulan silam, kata Yan Permenas Mandenas S.Sos Ketua Fraksi Pikiran Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua kepada ANTARA di Jayapura, Selasa, di ruang kerjanya.
"Kegiatan ini dilakukan secara tersembunyi dan telah berlangsung cukup lama," ungkapnya yang juga anggota Komisi C DPRDP.
Ia menambahkan, Freeport telah mencuri hasil kekayaan masyarakat Papua dan membohongi pemerintah dengan hasil tambang yang disalurkan lewat jaringan pipa-pipa bawah tanah.
"Selain emas, uranium juga diproduksi oleh Freeport," tambahnya.
Informasi ini menurutnya, didapatkan dari sejumlah masyarakat dan karyawan Freeport di Timika.
"Selain karyawan dan masyarakat, saya juga mendapat laporan dari sumber yang dapat dipercaya," tandasnya.
Hal ini sangat disayangkan mengingat pajak yang didapatkan dari perusahaan emas terbesar didunia ini, hanya berjumlah Rp30 milyar pada tahun lalu.
Mandenas juga mengeluhkan, bahwa dewan belum bisa bergerak karena terkendala masalah klasik, yaitu belum ada alokasi dana untuk turun ke lapangan.
"Kami belum bisa ke lapangan karena terkendala dana," katanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

DKI Targetkan Banjir Berkurang 75 Persen

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemprov DKI Jakarta bertekad terus mengatasi masalah banjir yang sering melanda wilayah ibukota. Selain akan mengurangi jumlah titik rawan banjir, DKI juga memiliki target jangka pendek dan panjang.
Tahun ini, kami akan terus melakukan pengerukan di enam segmen di lima wilayah ibukota.
-- Fauzi Bowo
Dalam jangka pendek, Pemprov DKI menargetkan pada tahun 2010 volume banjir akan berkurang hingga 40 persen. Bahkan pada tahun 2016, banjir di Jakarta akan berkurang hingga 75 persen. Untuk mencapai target tersebut, Pemprov DKI telah merancang beberapa program penanganan dan pengendalian banjir di ibukota. Diantaranya program pengerukan 13 sungai yang saat ini masih terus dilakukan. Kemudian menuntaskan pembangunan Kanal Banjir Timur (KBT) yang saat ini sudah mulai dioperasikan dan membuat saluran terowongan penghubung KBT dan KBB (kanal banjir barat).
“Tahun ini, kami akan terus melakukan pengerukan di enam segmen di lima wilayah ibukota. Enam titik ini sebagai lokasi prioritas dan apapun yang terjadi keenam titik tersebut harus selesai dikeruk pada tahun 2010,” ujar Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Balaikota, Selasa (6/7/2010).
Bersamaan dengan itu pula, Pemprov DKI akan melakukan pembersihan sampah dan pembangunan saringan sampah di seluruh wilayah DKI Jakarta. Selain itu akan melanjutkan pembangunan, perbaikan dan pengurasan saluran-saluran air serta menuntaskan pembangunan dan peninggian tanggul-tanggul di bagian utara Jakarta.
Kesiapan Pemprov DKI menghadapi banjir, tidak hanya bergantung pada program-program penanganan banjir. Sebab saat ini sarana dan prasarana pengendalian banjir yang ada sudah baik dan jumlahnya mencukupi. Seperti jumlah pompa air telah mencapai 303 unit dengan kecepatan yang tinggi dalam menyedot genangan air. Kemudian ada 19 waduk pengendali banjir yang tersebar di beberapa wilayah dengan total luas keseluruhan 196,26 hektar dan 26 situ yang mencakup luas 121,4 hektar.
Di sisi lain, Pemprov DKI juga telah menyiapkan 931 orang personel untuk membantu masyarakat saat diterpa banjir. Sejumlah personel ini siap turun kapan saja bila diperlukan. Selain itu, DKI juga memiliki 51 posko piket banjir. Dengan begitu diharapkan pengendalian banjir semakin mantap dilakukan. Apalagi mulai tahun 2010 sudah diterapkan sistem peringatan dini banjir. Sehingga jauh sebelum banjir tiba, warga Jakarta sudah mendapatkan kabar mengenai kemungkinan banjir sehingga mereka dapat segera mengungsi.
Sistem ini berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatotologi dan Geofisika (BMKG) yang memantau pola dan kondisi cuaca di Jakarta. Koordinasi juga dilakukan dengan pakar meteorologi, Dinas Hidro-Oseanografi TNI AL, petugas pemantau ketinggian air di hulu di tujuh lokasi titik pantau dan partisipasi masyarakat Jakarta.
Sedangkan upaya yang akan dilakukan Pemprov DKI untuk mengurangi 75 persen banjir di Jakarta pada tahun 2016, gubernur mengharapkan target tersebut dapat terwujud melalui program pembangunan saluran terowongan penghubung KBB dan KBT, rehabilitasi waduk dan situ serta pembangunan Waduk Pluit.
Kendati demikian, sebelum seluruh program pengendalian banjir itu selesai maka banjir di Jakarta masih akan tetap terjadi. Sebab pengerukan saluran air dan sungai masih dalam tahun kedua, sehingga belum semua saluran air rampung dikerjakan. Kemudian dampak perubahan iklim yang masih sulit diprediksi serta kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan masih perlu ditingkatkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS